• October 22, 2021

Berawal dari sebuah komik

Petak 9, “The man and the news”, 201

Sejak kecil sampai saat ini saya punya hobi membaca sebuah komik, satu hal yang saya suka dari membaca komik adalah adanya ilustrasi visual atau gambar yang mempermudah saya mengerti cerita yang akan disampaikan oleh penulis. Lewat gambar saya mengerti bagaimana naruto saat menyerang kakashi, atau ketika spiderman melepaskan jaring dari tangan nya dan melompati gedung bertingkat.

Tidak jauh berbeda dari sebuah komik, fotografi pun mengandalkan “ilustrasi visual” nya untuk menyajikan sebuah cerita. Bahkan, terkadang hanya sebuah gambar tanpa kata-kata sama sekali.

Glodok, “Ranjang Darurat” 2016

Yang membedakan sebuah foto dengan komik, adalah sebuah foto yang bercerita bisa hanya terdiri dari foto tunggal (short story) atau kumpulan beberapa photo tentang suatu rangkaian perisitiwa atau lokasi yang tersusun (sequencing) secara rapi. Beberapa fotografer dewasa ini lebih memilih membangun sebuah cerita dari satu foto tunggal, hal ini menarik bagi banyak penikmat foto. Sebuah foto tunggal, pada umumnya mengundang penikmat foto dalam membangun cerita dan opini sendiri sesuai kreasi masing-masing.

Dalam foto di bawah, saya coba mengangkat sebuah foto tentang pohon yang menjadi “pemeran utama”, tumbuh di tengah perkotaan d menaungi sebuah jembatan penyebrangan orang untuk memberi kesegaran di kota. Pohon disini menjadi point penting, menjadi warrior, menjadi Naruto. Tetapi saya yakin banyak dari anda yang menafsirkan foto ini sesuai dengan kreasi anda sendiri, bukan?

Harmoni, “Go-green warrior”, 2017

Multi tafsir dari suatu foto ini seringkali menjadi perdebatan, apakah sebuah foto harus disajikan secara tunggal atau jamak dalam bentuk photo series. Kenapa sebuah foto tunggal bisa mengundang multi tafsir? Itu karena sebuah foto tunggal, pada dasarnya adalah potongan cerita dari serangkaian kejadian, tanpa awalan, tanpa akhiran, penikmat foto dipaksa berpikir akan apa yang terjadi dan bagaimana akhir nya.

 

Multi tafsir dari suatu foto ini seringkali menjadi perdebatan, apakah sebuah foto harus disajikan secara tunggal atau jamak dalam bentuk photo series.

 

Glodok, “Hello candle”,2016

Anda melihat seorang pria, kontras dengan baju birunya sedang memegang sebuah lilin? Oh, tunggu sebentar, mungkin dia sedang memasangkan plastik ke atas lilin, atau malah ingin membukanya? Cerita yang terkandung dalam foto ini akan membawa banyak tanda tanya dan puluhan penafsiran, itu karena foto ini hanya sepotong realita yang ditangkap oleh kamera kita.

Sebuah photo series membantu mengarahkan potongan cerita demi cerita menjadi utuh. Martin Parr dalam koleksi buku-bukunya mengajarkan saya tentang bagaimana merangkai foto-foto menjadi cerita yang bukan saja menarik, tapi mampu membuat penikmat foto mengerti dan merasakan ceritanya. Check it yourself, https://www.martinparr.com/books/

Menarik jika membahas sebuah kumpulan foto (portofolio) yang mampu merangkai cerita, tapi saya percaya jauh lebih menarik membahas sebuah foto tunggal dengan cerita yang kuat di dalam nya.

Ketika anda berbicara mengenai sebuah foto dengan cerita yang kuat, anda tidak berbicara mengenai sekedar soal cerita, tapi soal rasa.

Judul memainkan peran penting dalam sebuah foto tunggal, sebuah judul membantu memahami cerita yang ada dalam sebuah foto. Namun, perlu diingat, ” a photograph is worth a thousand words”. Pada akhirnya foto itu sendirilah yang akan menceritakan segala sesuatu nya.

Beberapa tips dalam membuat sebuah foto yang bercerita

  • Biasakan membuat rencana yang matang. Sebelum kita pergi dengan kamera kita, ada baiknya kita memiliki rencana yang baik. Apa yang akan kita foto? Dimana lokasinya? Bagaimana suasana di lokasi, lightning, environment? Yah, standart 5 w + 1 h lah. Akan jauh lebih baik jika sebelum nya kita telah melakukan observasi lokasi tempat kita “hunting” sehingga saat hari-h semua berjalan lebih lancar. Pertimbangkan komposisi, angle pengambilan, kondisi cuaca, dll (banyak master di Fuji Guys Indonesia yang jauh lebih paham soal ini dibanding saya).
  • ‌Temukan mood yang menarik di sekitarmu. Visualisasi mood mungkin bisa berbeda antara satu dengan lain nya, tapi mood yang kuat membantu mengantarkan cerita yang jauh lebih akuratkepada penikmat foto. Kita juga bisa memanfaatkan ekspresi wajah seseorang untuk membantu mengantarkan rasa dari sebuah foto. Mood tidak selalu berbicara soal kehadiran elemen manusia di dalam foto, bisa juga segala sesuatu yang berhubungan dengan sisi humanitas. Salah satu contoh mood yang kuat dari foto bruce gilden berikut menceritakan tentang Haiti.
  • Perhatikan environment pendukung dalam foto kita, hal ini akan membantu penikmat foto mengerti cerita yang terkandung di dalam sebuah foto. Environment pendukung bisa terdiri dari apa saja, seperti misalnya warna, marka jalan, benda mati, hewan, apapun yang akan memberikan klu kepada penikmat foto. Foto dari elliot erwit berikut ini menceritakan tentang bagaimana diskriminasi terjadi saat itu.

Demikian beberapa tips dan trik untuk mengangkat sebuah cerita yang kuat dalam sebuah foto versi saya, tidak selalu mutlak hanya itu saja, yang terpenting adalah follow your heart and shoot with your feel.

Pro photographer? Just hobby, i admit it

Johnny Kurniawan

 

bayu

bayu

Read Previous

Menyeimbangkan Jalan-jalan Keluarga dan Hobi Fotografi

Read Next

Liputan 1st Sharing Room Street