SIDEBAR

Stage Photography by Kherisna Irawan

0 comments
Jun 05 2017
Post's featued image.

Bila kita sedang berada pada pilihan salah satu genre fotografi yang paling kita senangi, maka saya akan memilih Stage Photography atau Concert Photography atau fotografi panggung. Kenapa ? Karena… Fun.. dan Passion. Mungkin karena faktor lingkungan dan pertemanan yang akhirnya mempengaruhi saya untuk terus mempelajari dan menekuni genre foto ini. Disamping itu, selain memotret, kita juga mendapatkan bonus hiburan.
Stage Photography adalah salah satu cabang atau turunan dari Photo Journalist sebagai induk dan akarnya. Di stage, baik skala besar, menengah, maupun kecil, kita akan menemukan cerita (story), human interest, aksi, potret, dan emosi yang berubah-ubah setiap waktu. Karena itu pengetahuan kita tentang fotografi saja tidaklah cukup, butuh pengetahuan lebih untuk bisa merekam aksi panggung menjadi kesatuan konsep.

Cakupan dan pengertian tentang stage atau panggung sangat luas sekali, banyak artikel di internet yang membahas tentang itu, dan isinya sangat beragam karena tidak hanya menampilkan pertunjukan musik / musisi, tapi juga kesenian, baik teater maupun tari, fashion, maupun aksi seperti sirkus, sulap dll.
Artikel ini dibuat sebagai ajang sharing dan berbagi pengalaman dari apa yang saya dapat selama motret dari panggung ke panggung, juga dengan banyak masukan dari rekan dan senior fotografer.

Hal-hal yang perlu dipersiapkan :
1. Gears dan kelengkapan
Dalam hal ini kamera dengan lensanya, tidak pernah ada batasan mutlak bahwa harus memakai kamera dan lensa jenis tertentu, bahkan sebenarnya dengan kamera Smartphone pun kadang bisa membuat stage foto yang asyik. Hanya satu hal penting yang harus dicatat adalah, kita harus
sudah memahami gears yang kita miliki. Penguasaan karakter kamera dan lensa jelas adalah mutlak, karena terkadang situasipanggung yang sering berubah membuat kita harus dengan cepat mengadaptasi settingan kamera.

Setup Gear yang biasa saya gunakan :
Kamera : Fujifilm X-T10 dan atau X-E1
Lensa : 1. XF 18-55mm f2.8-4, Lensa Vivitar 135mm f2.8 2. Minolta Auto Rokkor 55mm f1.8 atau Leica Summilux-R 50mm f1.4 (ini sih pinjaman.. :D)

2. Venue dan Area Potret
Pertama kali kita datang ke venue, maka segera konsep, dari sudut mana saja kita akan mengambil gambar, usahakan jangan terpaku pada satu sudut, dan carilah celah sebanyak mungkin. Ini juga penting, apakah area tersebut memungkinkan kita untuk memotret. kita juga mesti melihat aturan main dari setiap venue, karena biasanya beda venue beda aturan dalam pengambilan gambar. Etika juga berlaku, karena tujuan utama panggung di venue adalah untuk penonton, maka jangan sampai kita juga menghalangi pandangan penonton karena kita keasyikan mengambil gambar. gerak-gerik kita pun juga jangan sampai mengganggu para pelaku seni / musisi yang sedang manggung. Penggunaan Flash adalah hal yang dianggap “tabu” atau dilarang untuk sebagian besar panggung / stage.

Jenis Panggung dan Tips kamera setting :
GRAND STAGE / Panggung besar

Area panggung megah dengan dimensi luas, baik indoor maupun outdoor dengan kapasitas sedikitnya 500 hingga ribuan penonton, biasanya menggunakan sound sistem dan tata cahaya ribuan watt. Dengan tata cahaya yang “mewah” tersebut biasanya fotografer sudah “keenakan” dalam pengaturan kameranya. Bila anda memiliki lensa “fast speed” misalnya dari f2.8 keatas, mengatur speed di 1/250 agar objek bisa freeze
dan mengatur ISO dibawah 1000, agar kualitas gambar terjaga, itu adalah tolak ukur idealnya. Bagaimana dengan gear “kit” ala kadarnya? ngga usah terlalu pusing, cukup atur speed ke mode “A”, lalu setting ISO di Auto dengan pengaturan min. 200 maks. 3200 dan minimum speed di 1/250. pengaturan white balance atur juga ke auto / AWB, karena kamera fuji mempunyai pengaturan auto white balance yang sangat mumpuni.
Tantangan terbesar di panggung besar adalah perubahan lampu-lampu dari gelap ke terang dan perubahan dari warna lampu yang silih berganti, biasanya autofocus kamera dipaksa bekerja ekstra untuk mengunci objeknya, menggunakan manual focus dengan focus peaking sebetulnya adalah pilihan terbaik.

CLUB STAGE / Panggung kecil
Area panggung kecil, biasanya letaknya di cafe-café atau lounge, dengan kapasitas penonton 50 sampai 100 orang. Sound sistem medium dengan tata cahaya minim dan cenderung “remang-remang”. walaupun “remang-remang”, bukan berarti “sulit” untuk diambil gambar. Saya biasanya merubah konsep fotonya menjadi low key, pengaturan speed di 1/125, karena musisi yang tampil di café jarang yang jingkrakjingkrak
kecuali kalau kita memotret di café komunitas underground atau metalhead.
Bila lensa bawaan kita hanya “kit”, jangan takut menaikkan ISO sampai 3200 atau 6400 sekalipun, karena sekali lagi kamera Fuji cukup mumpuni untuk “bermain” di ISO tinggi dan cukup acceptable. Bagaimana dengan noise yang timbul di ISO tinggi ? noise di kamera fuji berkarakter film grain ketimbang pixel noise, kalau perlu rubah juga konsep motretnya ke vintage atau dibuat Black and White atau hitam putih.

Aksi Panggung :
Usahakan agar setiap frame adalah cerita, tidak ada batasan tertentu dengan memakai apa dengan cara bagaimana, dan komposisi seperti apa yang harus digunakan, berkreasilah sesuka hati.
Penggunaan photo burst biasa dilakukan oleh para fotografer agar tidak kehilangan momen atau menghindari frame yang gagal fokus, hal ini bebas dan sah saja dilakukan dalam photo journalist. seiring waktu, saya sendiri mulai mencoba terapi “one shot one kill”, dimana saya belajar memperbaiki cara saya memotret dan belajar mengikhlaskan kehilangan moment berharga bila ternyata saya gagal. Cuma di setiap venue dan panggung, moment berharga itu ada banyak sekali. Setelah semua hal sudah disiapkan, posisi sudah aman… just enjoy the show, and release your shutter..

Aksi panggung yang memikat

Moment dan Detail :
Design stage yang sedemikian rumit, pelaku panggung atau seniman dan penonton yang demikian beragam, tentunya banyak memiliki sisi keunikan tersendiri. Jangan lupakan setiap detail yang unik juga momen-momen unik yang terjadi di sekitar panggung. Berikut beberapa diantaranya :

Post Production dan Output :
Selesai memotret, hasil foto tersebut biasanya akan memasuki tahap post production, karena jujur tidak ada hasil yang 100 persen sempurna, dan kadang peran dari software edit foto sangat diperlukan. Saya sendiri menggunakan software seperti Snapseed dan VSCO, juga Adobe Lightroom untuk editing yang lebih detail untuk memainkan eksposure dan tone yang saya inginkan. Semua akhirnya bergantung ke selera.
Tidak ada aturan tertentu untuk pengambilan foto menjadi Jpeg atau RAW, kecuali anda menyukai pengaturan yang lebih di detail pada saat post production.
Output dari foto yang kita ambil, kita sendiri yang menentukan. Apakah hanya untuk kebutuhan media sosial populer seperti instagram atau facebook yang berarti akan mengalami penurunan kualitas foto berupa downsampling, atau disimpan ke high-res gallery semacam flickr atau 500px. Untuk beberapa event yang saya ikuti, kadangkala saya membuat photobook untuk hasil akhir berupa media cetaknya untuk koleksi pribadi, maupun kebutuhan merchandise klien/ pihak penyelenggara.

Penutup:
Masih banyak hal lain yang bisa kita eksplore dari Stage Photography, yang mana akan terus berkembang untuk berbagai kebutuhan, baik sebagai media marketing maupun promosi terhadap venue maupun pihak penyelenggara, dalam hal ini EO maupun promotor. Stage photography juga bisa menjadi ajang koleksi portofolio untuk setiap fotografer, baik yang pemula maupun profesional, baik yang sekedar hobi, maupun untuk mencari nafkah. Di Indonesia sendiri sudah ada komunitas khusus bagi para “pemburu foto panggung” di Indonesia, kita bisa melihat kumpulan portofolio fotografer Indonesia dari berbagai venue baik lokal maupun mancanegara. Stage Photography buat saya pribadi bukan hanya sekedar foto dokumentasi biasa, tapi juga menjadi karya seni tersendiri. Tetap pelihara rasa lapar kita untuk terus belajar dan belajar, jangan segan untuk mulai hunting setiap venue dari yang terkecil seperti ajang pentas seni di lingkungan kita, cafe-café, acara agustusan, maupun venue besar. Jangan malu bertanya pada fotografer profesional yang sudah lama malang melintang duluan di bidang ini, baik secara teknis maupun non teknis dan cari referensi foto stage sebanyak mungkin baik dari internet maupun buku. Dan terakhir, kembangkan style memotret kita sendiri..
Happy hunting dan sampai bertemu di medan potret.. 😀

 

Kherisna Irawan
who am I, or what am I :
facebook.com/kherisna
instagram.com/kherisna
All photos © Kherisna Irawan 2017, All right reserved kherisna.weebly.com

0